Senin, 17 Oktober 2011

Nenek Pemungut Daun

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?
Insya Allah, Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya.

"Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.
Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Ta'mir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya." Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. "Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."
Allohumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad....

Rasulullah dan Pengemis

"Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai
saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka
kalian
akan dipengaruhinya". Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan
membawakan
makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan
makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang
membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari
! sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah
anaknya Aisyah RA yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?". Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak
ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja". Apakah Itu?", tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi keujung pasar dengan
membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk
diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu
memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya,
si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu ?". Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa." "Bukan! Engkau bukan ora! ng yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak
susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih
dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW". Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... " Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan
Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq
Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Jumat, 14 Oktober 2011

Kisah Tukang Cukur

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan bewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai hangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih kepada TUHAN.
Si tukang cukur bilang “saya tidak percaya kalu Tuhan itu ada”.
Kenapa kamu berkata begitu ?,”kata si konsumen”.
“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…..untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada”.
“katakan kepadaku, jika tuhan itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah..?”.
“Jika Tuhan ada, tak akan ada sakit ataupun kesusahan”.
Saya tidak dapat membayangkan Tuhan yang Maha Penyayang membiarkan ini semua terjadi”. Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena ia tidak ingin terjadi adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah ia meninggalkan ruangan itu, dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, kotor dan brewok, tidak pernah di cukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata : “kamu tau, sebenarnya di dunia ini tidak ada tukang CUKUR….!”
Si tukang cukur tidak terima dan ia berkata : “kamu kok bias bilang begitu ..?”
“saya tukang cukur dan saya ada di sini, dan barusan saya mencukurmu”.
“tidak…!”, elak si konsumen. “tukang cukur itu tidak ada!, sebab jika tukang cukur itu ada maka tidak ada orang berambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana”, si konsumen menambahkan.
“ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada”, sanggah di tukang cukur. Apa yang kamu lihat itu karna salah mereka sendiri, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan erapikan rambutnya..?”, jawab si tukang cukur membela diri.
“COCOK, Saya Setuju..!”, kata si konsumen. “itulah point utamanya!...sama dengan Tuhan. “Maksud kamu bagaiman…?”,Tanya si tukang cukur tidak mengerti.
“Sebenarnya Tuhan itu ada, tapi apa yang terjadi sekarang ini…?
Mengapa orang-orang tidak mau datang kepada-Nya dan mencari-Nya …? Oleh karna itu banyak yang sakit dan tertimppa kesusahan di dunia ini”.
Si tukang cukur terbengong…!! Dalam hati dia berkata : “benar juga apa kata dia…mengapa aku tidak mau datang kepada Tuhanku….untuk beribadah dan berdo’a, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini…?”.

Yakinkah anda bahwa Tuhan ada….? Semoga kita senantiasa mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Amiin.

Kisah Ketabahan Seorang Ibu Tua Renta

Suatu ketika si ibu melakukan perjalanan dengan menumpang perahu layar dari
daratan tempat kediamannya menyeberangi lautan menuju suatu daerah dimana
anaknya sedang menuntut ilmu. Ditengah perjalanan, perahu tiba-tiba datang
badai dan ombak yang sangat ganas menghempaskan perahu, sehingga perahu
layar tersebut berjalan tak tentu arah terbawa ombak. Melihat kejadian
tersebut, semua penumpang kecuali ibu ini, berteriak-teriak histeris karena
ketakutan, ada yang mencari pelampung, ada yang saling berpelukan dengan
anggota keluarga dan teman seperjalanan dan ada juga yang sudah meloncat ke
air untuk berusaha berenang mencari pantai dilautan yang tidak kelihatan
tepiannya. Sang nakhoda tetap berusaha mengendalikan perahu layar tersebut
semampunya dengan harapan jangan sampai perahu itu terbalik dan tenggelam.

Dalam keadaan yang sudah kacau balau tersebut, si ibu tetap duduk dengan
tenang sambil sesekali menengadahkan wajah dan tangannya ke atas dengan
bibir komat-kamit. Seorang awak kapal ternyata memperhatikan si ibu tua itu
dan kemudian ia mendekati seraya berkata :" Ibu... apa yang sedang engkau
lakukan, mengapa ibu diam saja dan tidak berusaha untuk menyelamatkan diri
.."? Lalu sang ibu memndang awak kapal itu dengan senyum yang sangat ikhlas
dan tenang, lalu dia berkata :" apakah yang dapat aku lakukan disaat
seperti ini.."? Awak kapal menjawab :" pergilah cari pelampung atau
masuklah ke sekoci bersama dengan penumpang yang lain" Si ibu kembali
bertanya.." apakah dengan kondisiku yang sedemikian ini akan mampu berebut
pelampung atau mampu bertahan untuk saling mendorong di dalam sekoci yang
sekecil itu..? apakah kapal ini tidak lebih besar dari sekoci itu untuk
tempat berteduk dan berlindung.."? lalu sang awak kapal menjawab :" ibu,
kapal ini akan tenggelam karena sudah terlalu banyak air laut yang masuk"
Kemudian si ibu menjawab :" aku sangat berbahagia untuk tetap tinggal di
kapal ini, karena sekoci dan pelampung itu tidak akan pernah sampai ke
daratan yang akan kita tuju, karena mereka tidak akan kuasa menentukan
arahnya, sementara Jikalau Tuhan mengijinkan kapal ini bertahan, maka akan
sampailah kita ke daratan tujuan kita dan aku akan bertemu dengan anakku
yang kucintai yang sedang menungguku disana". Si awak kapal bingung dan
kembali bertanya :" bagaimana sekiranya kita tidak mampu untuk meneruskan
perjalanan dan kita putar haluan untuk kembali..?" si ibu menjawab :" aku
juga akan berbahagia, karena aku akan kembali berkumpul dengan suami ku
yang sedang menunggu ku di rumah.." Lalu si awak kapal kembali bertanya:"
Bagaimana kalau kapal ini tenggelam dan kita akan mati ditelan ombak
badai..?" si ibu kembali menjawab dengan tenang dan senyum :" aku juga
akan tetap berbahagia, karena aku akan bertemu dengan anakku yang telah
lama pergi menghadap Sang Penciptanya". Seketika itu sang awak kapal baru
tersadar.., ternyata ketabahan ibu ini sungguh luar biasa, lalu dengan
tangan yang lembut ia menuntun ibu tua itu untuk masuk menuju ruang awak
kapal serta berkata " Terimakasih Ibu, engkau telah memberiku pelajaran
yang sangat berharga, bahwa hidup harus dihadapi dengan ketenangan jiwa dan
terutama penyerahan diri kepada Allah Sang Pencipta"

Selasa, 11 Oktober 2011

Makna sebuah titipan

Makna sebuah Titipan
Sering kali aku berkata ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan…
Bahwa mobilku hanya titipan Allah…
Bahwa rumahku hanya titipan-Nya…
Bahwa hartaku hanya titipan-Nya…
Bahwa putraku hanya titipan-Nya…
Bahwa orang tuaku hanya titipan-Nya…
Tetapi…mengapa aku tak pernah bertanya…mengapa Dia menitipkan kepadaku…?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku…?
Dan kalau bukan milikku…apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini….?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku…? Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya..?
Ketika diminta kembali…kusebut itu sebagai musibah….kusebut itu sebagai ujian….kusebut itu sebagai petaka…kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita…
Ketika aku berdo’a….
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku…
Aku ingin lebih banyak harta…ingin lebih banyak mobil…
Lebih banyak popularitas…dan kutolak sakit… kutolak kemiskinan…
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku…
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika…
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku…
Kuperlakukan DIA seolah mitra dagang dan bukan KEKASIH…
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”… dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku….
Gusti…ya Allah yang Maha Agung….padahal tiap hari ku ucapkan, bahwa hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu…. Bencana dan keberuntungan sama saja….

Pesankan Tempatku di Neraka

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang perhatian kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!
"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!"
Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam. . .
Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu. Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria . Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.
"Bangunkan saja!" kata seorang penumpang. "Iya, bangunkan saja!" teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming. Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya.... Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat... Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah... Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat. Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada! Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a’lam. Ya Robb…..wafatkan kami dalam keadaan husnul khusnul khotimah….amiiiin.

Kisah dua tukang Sol (Pertolongan Allah Pasti datang)



Mudah2an kisah ini bermanfaat, khususnya bwt saya pribadi....

"Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin tahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereke bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik. insya Allah.....

Kamis, 06 Oktober 2011

Pengorbanan Seorang Ibu Part 4










Saat kita berumur lima tahun, ibu suka membelikan pakaian yang bagus-bagus. Ibu begitu bangga melihat anaknya sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian bersih.

Masya Allah perlakuan ibu yang lembut dan tulus ternyata kita balas dengan sesuatu yang buruk. Kita tidak tahu balas budi dan kebaikannya. Justru kita bermain-main lumpur sehingga tubuh dan pakaian berlepotan kotoran. Tetapi dengan tangan yang dingin dan sikap yang sabar ia rela menanggung akibatnya. Ia lepaskan pakaian kita, ia ajak kita untuk mandi, ia mencuci pakaian yang kotor itu. Ya Allah, inikah balasan seorang anak kepada ibunya yang sudah berjerih payah memberikan pakaian bagus ?

Ketika ibu melihat anak-anak berpakaian TK berangkat sekolah, ia menjadi tak sabar. “ Betapa bahagianya jika anakku sudah bersekolah seperti mereka!” demikian pikiran dalam hatinya yang suci.

Usia kita sudah enam tahun. Ibu mendaftarkan sekolah. Dihari-hari pertama, ia merasa senang karena melihat kita mengenakan pakaian seragam. Ibu sangat berharap agar kita menjadi anak yang pandai dan mendapatkan banyak pengalaman di sekolah. Namun bagaimana sikap kita di saat itu ?

Dengan lemah lembut ibu kita mengajak kita berangkat sekolah dihari pertama, namun dengan nada membentak dan berteriak-teriak kita menolak untuk pergi. Meskipun demikian ibu terus merayu dan membujuk dengan lemah lembut. Ia terus mencoba agar kita mau diantarkan sekolah.

Begitulah kasih saying ibunda. Ia sangat berbahagia ketika akhirnya kita mau diantar ke sekolah. Banyangkan pengorbanan ibunda! Demi kita, anaknya yang disayangi, ia rela tidak masuk kantor karena menunggui dengan sabar di luar kelas. Balasan apakah yang kita berikan manakala diri ini sudah dewasa kita menjadi orang pandai dan menyandang jabatan?

Semakin bertabahnya usia, sikap dan kebiasaan kita semakin merepotkan ibunda. Tak jarang kita bermain dengan teman di luar rumah dan berakhir dengan pertengkaran. Karena kenakalan itu, akibatnya anak orang lain menjadi korban. Atas perbuatan kita justru ibu yang dibuat repot. Dengan kerendahan hati ibu kita mendatangi tetangga dan minta maaf. Begitulah sang ibu! Ia berkorban demi anaknya. Namun seringkali kita tidak tahu diri. Kita tidak pernah berhenti mengganggu teman, sehingga berkali-kali ibu dengan menahan rasa malu mendatangi orangtua mereka untuk meminta maaf.

Di usia tujuh sampai Sembilan tahun kita sering membuat jengkel ibunda. Ketika kita diajak bertamu, tiba-tiba menyenggol gelas dan memecahkannya. Ketika kita asyik bermain dan lupa waktu, ibunda mencari kesana kemari dengan hati cemas.

Ibunda ingin agar anaknya pandai, meskipun dengan membayar mahal, ia bersemangat untuk mendaftarkan kita di lembaga kursus. “ya Allah, betapa besar dosaku, aku tidak pernah menghargai jerih payahnya dalam mencarikan biaya untuk kursus, Aku bukan berangkat ke tempat kursus tetapi main game di tempat lain!”

Ketika mendengar adzan ashar, ibunda memperingatkan agar kita segera shalat berjama’ah, namun kita tidak menghiraukan karena asyik bermain atau bermalas-malasan di tempat tidur. Ibunda juga mendaftarkan kita ke ustadz agar kita belajar mengaji di TPQ/TPA. Namun niat baik sang ibu yang tulus itu justru kita balas dengan kebohongan. Kita seringkali tidak berangkat ke tempat mengaji melainkan bermain-main dengan teman. “ya Allah, sungguh berdosa diriku, niat ikhlas tulus ibunda saya balas dengan kebohongan demi menuruti kesenangan sendiri.”

Sekali waktu kita minta diantar ke rumah teman atau ke sekolah atau untuk suatu keperluan. Padahal ibunda saat-saat itu sedang sibuk, namun karena kasih sayangnya ia mengorbankan waktunya untuk mengantarkan kita, namun apa balasan kita? Kita tidak berterimakasih dan tidak mencium tangannya melainkan membuka pintu mobil dan langsung meloncat keluar, inikah balasan anak terhadap ibunya?

Ibunda sudah berjerih payah belanja dan memasak di dapur, dengan harapan agar menu masakannya bisa memuaskan putra tercinta, namun ketika dengan lemah lembut menyuruh makan, kita sambut dengan sikap dingin, kita tadak menyukai masakannya. Padahal seandainya masakannya kita makan dan kita berikan pujian yang tulus, pasti kebahagian ibunda menjadi luar biasa.

Ibunda sangat bangga mempunyai anak seperti kita ini, ia perkenalkan kita kepada temannya dan meminta agar kita menjabat tangan mereka. Lihatlah senyum ibu kita begitu mengembang , itu artinya ia bangga punya anak seperti kita, namun apa balasan kita kepadanya?

Sungguh keterlaluan! Kita merasa malu memperkenalkan ibunda kepada teman-teman kita. Bahkan ketika teman-teman berkunjung ke rumah, kita sangat tidak suka jika ibunda ikut duduk bersama untuk menemani. Kita tidak pernah membanggakan ibu kita di depan orang lain, inikah anak berbakti? Meskipun demikian ibu kita mencoba untuk mengerti, ia mengalah dan menuruti kemauan kita untuk menjauh dari teman-teman kita.

Ibunda membelikan HP untuk kepentingan berkomunikasi dan memudahkan manakala dia menghubungi kita. Namun apa balas kita terhadapnya? Masya Allah, kita malah enggan mengangkat telepon manakala ibu menghubungi. Kita suka berganti-ganti kartu sehingga ibu jarang bisa berkomunikasi dengan kita jika ada sesuatu yang penting.

Ketika kita butuh kendaraan, dengan susah payah ibunda membelikan dengan cara kredit, tetapi kita tidak pernah tahu diri, motor baru itu kita preteli. Justru kita sering pulang sekolah terlambat ampai di rumah. Tahukah kita, bahwa ibu menunggu anaknya dengan hati cemas. Manakala kita sampai di rumah, ibunda menanyakan dari mana saja kita, namun kita tidak menjawab dengan baik-baik, justru berkata dengan kalimat yang menyakitkan. “ibu selalu ingin tahu urusan orang, cerewet!”

Di saat kita lulus SMA, ibu merasa ikut bersyukur dan berbahagia, apa balasan kita terhadap ibu yang sudah berjerih payah membiayai dan mendo’akan keberhasian kita? Justru kita pergi tanpa pamit untuk berpesta dengan teman-teman merayakan kelulusan hingga pagi. Tahukah perasaan ibu pada saat itu? Dia menunggunya dengan hati was-was, ketika ditelepon,kita malas mengangkatnya, hati ibunda menjadi sangat gelisah, semalaman tak bisa pejamkan mata, keluar masuk pintu dan menengok keluar, ia berdo’a untuk memastikan kita baik-baik saja, betapa durhakanya kita kepada ibunda.

“kedurhakaan” kita terus berlanjut sejalan dengan bertambahnya usia, kita tidak pernah membahagiakannya, melainkan selalu “merepotannya” meskipun ibu tidak pernah mengeluh dengan itu semua.

Ibu tidak pernah berhenti berfikir dan tak berhenti mencemaskan kita, ia gelisah sebelum kita menjadi orang yang mapan. Bayangkan, ketika kita telah lulus sarjana, ibunda selalu berdo’a agar anaknya segera mendapatkan pekerjaan.

Betapa ibu tak pernah berhenti berfikir manakala kita masih menganggur, hati senantiasa was-was manakala kita berteman dengan orang lain, ia khawatir anaknya terjerumus dan terpengaruh perbuatan buruk. Apalagi kita sering tidak pulang ke rumah tanpa memberitahukan keberadaan kita ada dimana.

Di saat kita mendapat pekerjaan, hati ibunda menjadi lega dan bersyukur. Namun apa yang bisa kita berikan sebagai balasan kepadanya? Justru kita menjadi sibuk dan sama sekali tidak menghiraukannya.

Kita tidak pernah berhenti membebani ibunda. Sampai-sampai di saat menikah saja, ia masih harus turut mengurus biaya pesta pernikahan. Setelah itu apa balasan kita kepadanya? Kita justru tidak mau berkumpul dengannya dalam satu rumah. Bahkan kita berpindah tempat di kota yang jauh dengan maksud agar tidak direpoti orangtua.

Ketika berusia 30 tahun, istri kita melahirkan. Kita punya anak, ibu sangat peduli dengan istri dan anak kita, namun I’tikad baiknya kita balas dengan penolakan. Ibunda mengajari istri kita bagaimana merawat bayi, namun kita justru berkata “itu cara kuno, sudahlah ibu jangan ikut campur tentang bayi kami!” tahukah?! Sesungguhnya kalimat seperti itu bagaikan ujung belati yang merobek-robek hatinya.

Ibu kita sudah semakin tua, ia kangen dengan kita dan cucunya. Ia ingin bermalam di rumah kita meskipun hanya sebentar, namun kita merasa sangat keberatan lalu menolaknya secara halus. Kita mengeluh jika rumah kita sempit dan tak ada kamar untuknya. Meskipun demikian, ibu mencoba untuk mengerti.

Di saat ibunda semakin renta, tubuhnya tak lagi sempurna jika berjalan, rambutnya sudah memutih, matanya telah kabur, ia sangat bersusah payah untuk melngkahkan kaki. Kesehatannya terus menerus dan mulai sakit-sakitan. Tahukah kita apa yang dia pikirkan ketika dalam keadaan sulit seperti itu? Ibu mengeluh daam hatinya, “ya Allah, seandainya di saat aku sakit dan tidak bisa apa-apa seperti ini anakku ada di sampingku, tentu keadaanku kan menjadi lain.”

Manakala ibu kita kesepian dan menghadapi sakitnya, sementara ditempat lain kita bersenang-senang. Kita tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan ibunda di saat itu, ketika dia menelepon , kita menjawab, “aku masih sibuk dengan pekerjaanku,bu!”

Padahal seandainya jika berbakti bisa saja kita menyempatkan waktu untuk bertemu ibu, namun karena sikap sang anak yang tidak tau balas budi sehingga kesibukan pekerjaan atau apapun dijadikan untuk berlindung dalam mengemukakan alasan.

Renungkanlah! Betapa besar dosa kita manakala seorang ibu yang sudah tua renta sendirian di tempat yang jauh, ketika sakit tak ada yang merawatnya, untuk makan, ia harus tertatih-tatih ke dapur untuk memasak makanan, untuk mengambil minum, mungkin dilakukannya dengan merangkak.

Keadaan seperti itu akan kita rasakan jika kelak kita telah memasuki usia udzur seperti ibunda. Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orangtua kami, mereka telah mengasuh dan mendidik dengan kasih saying.

dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,” wahai tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” QS. Al-Isra’ 24.

Marilah kita mencoba menarik waktu kebelakang. Dalam perjalan hidup kita, senantiasa berselimut kasih sayang ibunda. Mulai dari berupa janin hingga berumur empat puluh tahun bahkan lima puluh tahun masih saja menyulitkan ibunda. Menyulitkan dalam makna selalu menjadi beban pikirannya.

Sebelum ibu meninggalkan kita ke alam fana, masih ada kesempatan untuk berbakti dan mengasihinya meskipun tak berarti jika dibandingkan dengan pengorbanannya.

Jika kita ingin mendapatkan hidup bahagia, mudah mencari rejeki dan dijauhkan dari masalah maka mintalah doa ibu yang tulus, duduklah di bawah kakinya dan cumlah lututnya untuk meminta keridhaannya, sebab sesungguhnya doa ibu sangatlah keramat, doa ibu mampu mengubah taqdir.

Barangkali diantara kita merasakan hidup tdak beruntung, maka intropeksilah kepada dri sendiri, mungkin saja kita kurang berbakti kepada ibunda. Mungkin saja bunda sakit hati atau kecewa terhadap kita, ini sangat berbahaya karena dari doa ibu dan kekesalannya dapat mendatangkan bencana. Naudzubillah!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More