Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Aku memanggilmu

Aku Memanggil Kalian.....

Berkali-kali aku memanggilnya,

Berkali-kali aku menyebutnya,

Berkali-kali

Berkali-kali

Muhammad,

Ya Muhammad,

Sang Kekasih

Rahasia Cinta

Ruh Kasih

(Emha Ainun Nadjib)

Sahabat, apa kabar semuanya? Mudah-mudahan kalian semua diberikan limpahan kasih sayang Nya yang tak berhingga. Aamiin.btw.. Saya ingin meminjam waktu kalian sebentar dan semoga sudilah kalian meluangkannya. Ada seseorang yang ingin bertutur kepada kita. Ada seseorang yang ingin mengisahkan selaksa kehidupan yang mungkin sering kita dengar. Beginilah lantunannya. Simak baik-baik ya… Mudah-mudahan bermanfaat.

Bismillah, Assalamu’alaikum….

Perkenalkan!

Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.

Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad... ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.

Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis”. “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini.

Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.

Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.

“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.

“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka”

“Bagaimana jika sebuah genta?”

“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”

“Jika terompet tanduk?”

“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”

Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.

“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa...” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur.

Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.

Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.

Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada diketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?” Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “ Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru:

Allah Maha Besar. Allah Maha Besar

Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah

Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah

Marilah Shalat

Marilah Mencapai Kemenangan

Allah Maha Besar. Allah Maha Besar

Tiada Tuhan Selain Allah.

Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”.

Minggu, 18 Maret 2012

Surat Cinta Untuk Jiwaku dan Jiwamu

Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta sahabat-sahabat tercintaku yang insya Allah tetap mencintai Allah dan RasulNya di atas segalanya.., karena hanya cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya,cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandangan yang berbeda, lebih bermakna dan indah.



Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati sahabat-sahabat tercintaku yang kerap kali terisi oleh cinta selain dariNya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan karenaNya,lalu di ruang hatinya yang kelam merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah di mana keikhlasannya..



Maka saat merasakan kekecewaan dan kelelahan karena perkara yang dilakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil.Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses. Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa sahabat-sahabat tercintaku yang mulai lelah menapaki jalanNya ketika seringkali mengeluh, merasa dibebani bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya.



Surat ini kutujukan untuk roh-ku dan roh sahabat-sahabat tercintaku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati, lalu di manakah kejujuran diletakkan??? Dan kini terabailah sudah nurani yang bersih, saat ibadah hanyalah sebagai rutin belaka, saat jasmani dan fikiran disibukkan oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan yang penuh kepalsuan.

Coba lihat disana! Hatimu menangis dan meranakah?



Surat ini kutujukan untuk diriku dan diri sahabat-sahabat tercintaku yang sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri. Sungguh tiada satupun yang membuat kita lebih di hadapanNya selain ketakwaan.Padahal kita menyedari bahawa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, namun kitamasih bergulat terus dengan kefanaan. Surat ini kutujukan untuk hatikudan hati sahabat-sahabat tercintaku yang mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan berlalu begitu saja, saat tiada rasa takut padaNya ketika maksiat dilakukan,dan tiada merasa berdosa ketika mendzalimi diri sendiri dan orang lain.



Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya hanya dengan kekuatan dariNya.



"Ya..Allah yang maha membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini pada agamaMU, pada taat kepadaMu dan dakwah di jalanMu "

Wallahualambisshawab...

Semoga surat ini dapat membangkitkan iman yang sedang mati atau jalan di tempat, berdiam diri tanpa ada sesuatu amalanpun yang dapat dikerjakan. Kembalikan semangat itu sahabat- sahabat tercintaku....Ada Allah dan orang-orang beriman yang selalu menemani di kala hati"lelah".

Sabtu, 17 Maret 2012

Terkagum Pada Dunia

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kalam-Nya, Al Qur’an sebagai penyejuk hati. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.



Sungguh diri ini kadang terkagum-kagum dengan dunia. Begitu terpesona sampai lupa daratan. Dunia pun dikejar-kejar tanpa pernah merasa puas. Sifat qona’ah, merasa cukup dengan setiap nikmat rizki pun jarang dimiliki. Demikianlah watak manusia. Inilah yang terjadi pada banyak orang, termasuk pula pada diri kami.



Dalam kesempatan kali ini, ada ayat yang patut jadi renungan. Semoga bisa menyejukkan hati. Hati yang terkagum-kagum pada dunia, semoga bisa tersadarkan diri. Ayat tersebut adalah firman Allah Ta’ala,





“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20)



Beberapa faedah yang bisa kita gali dari ayat di atas:



Faedah pertama

Dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Karenanya Allah firmankan,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan”

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lainnya,


“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imron: 14) Demikianlah Allah menyebutnya dalam rangka menyatakan bahwa dunia itu rendah.

Yang dimaksudkan dunia itu “la’ib” (permainan), adalah sesuatu yang batil. Sedangkan yang dimaksud “lahwu” (melalaikan), adalah segala sesuatu yang melalaikan dan pasti akan lenyap.

Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menceritakan mengenai bagaimanakah hakikat dunia yang sebenarnya. Diterangkan pula bagaimanakah berbagai tujuan dunia serta semangat manusia untuk menggapainya. Sungguh dunia ini benar-benar hanyalah mainan dan melalaikan. Badan jadi dibuat kepayahan dan hati pun dibuat lalai. Inilah realitas yang ada pada pengagung dunia. Lihat saja bagaimana pengagum dunia menghabiskan waktu dan umur mereka dalam hati yang penuh kelalaian, lalai dari dzikir pada Allah, juga lalai dari berbagai ancaman dan peringatan Allah. Lantas lihatlah mereka ketika mereka menjadikan agama sebagai candaan dan kesia-siaan. Hal ini jauh berbeda dengan orang yang sadar akan dunia akhirat (yang pasti ia jumpai). Hati mereka akan senantiasa rindu berdzikir pada Allah, mengenal dan mencintai-Nya. Orang yang memperhatikan akhirat benar-benar akan beramal untuk mendekatkan diri mereka pada Allah.”



Faedah kedua

Dunia ini hanyalah perhiasan. Allah Ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan” Perhiasan yang dimaksud adalah pakaian, makanan, minuman, kendaraan, rumah, istana dan kedudukan.



Faedah ketiga

Dunia jadi ajang berbangga di antara manusia, sibuk dengan memperbanyak harta dan begitu bangga dengan anak. Itulah yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan,

وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak”.

Syaikh As Sa’di rahimahullah menerangkan, “Setiap pengagum dunia begitu saling berbangga satu dan lainnya. Inilah yang sering kita lihat. Mereka sangat ingin sekali tersohor dalam hal itu dari yang lainnya.”

Beliau menjelaskan lagi, “Setiap pengagum dunia akan selalu berbangga dengan banyaknya harta dan anak dari yang lainnya. Ini suatu realitas pada pengagum dunia.”



Lalu bagaimanakah sikap yang benar?

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan kembali, “Hal ini berbeda dengan orang yang mengenal dunia dan hakikatnya. Ia hanya menjadikan dunia sebagai tempat berlalu, bukan negeri yang ia menetap selamanya. Dunia hanya dijadikan negeri sebagai ajang untuk saling berlomba mendekatkan diri pada Allah. Dunia hanya jadi sarana untuk sampai pada Allah. Jika ia melihat orang yang begitu bangga dan saling berlomba dalam harta dan anak, ia balas dengan berlomba (terdepan) dalam amalan sholih.”

Kalimat terakhir yang dikatakan oleh Syaikh As Sa’di di atas hampir sama dengan ucapan Al Hasan Al Bashri:

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam hal dunia, maka unggulilah dia dalam hal akhirat.”



Faedah keempat

Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman,

كَمَثَلِ غَيْثٍ

“seperti hujan”. Ghoits adalah hujan yang datang setelah sebelumnya manusia berputus asa dari turunnya. Ghoits inilah yang disebutkan dalam firman Allah,

“Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah yang Maha pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syura: 28). Ghoits inilah hujan yang membuat manusia terkagum-kagum karena sudah begitu lama tak kunjung turun.



Faedah kelima

Orang yang terkagum pada dunia dimisalkan dengan orang yang terkagum pada ghoits. Ghoits adalah hujan yang begitu lama dinantikan, sehingga jika hujan tersebut turun, maka orang pun akan terkagum-kagum, merasa takjub. Demikianlah sifat pengagum dunia. Allah Ta’ala berfirman,

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ

“seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani.”

Lihatlah bagaimana tanaman yang tumbuh dari hujan tersebut begitu dikagumi. Demikianlah orang kafir yang mengagumi dunia. Mereka begitu tamak pada dunia dan begitu condong padanya.


Faedah keenam

Allah Ta’ala menjelaskan bagaimanakah sifat dunia. Bagaimanakah keadaan harta dan kemewahan dunia lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا

“kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur”

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa nikmat dunia hanyalah nikmat dan perhiasan sementara yang akan sirna. Allah Ta’ala mensifatinya dengan tanaman yang terlihat kuning, padahal sebelumnya berwarna hijau nan ceria. Tanaman tersebut akhirnya pun hancur kering. Begitulah pula kehidupan dunia. Awalnya berada di masa muda, kemudian beranjak dewasa, lalu dalam keadaan lemah di usia senja. Manusia di masa mudanya begitu enak dipandang dan ia dalam kondisi fisik yang kuat. Kemudian ia pun beranjak dewasa dan berubahlah kondisi fisiknya. Lalu ia beranjak ke usia tua senja, ketika itu dalam keadaan lemah dan sulit untuk bergerak sebagaimana mudanya. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala,


“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)



Faedah ketujuh

Ayat di atas menunjukkan bahwa dunia pasti akan sirna. Akhirnya dunia adalah suatu keniscayaan. Akhirat suatu hal yang pasti akan kita temui, tanpa diragukan lagi. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menceritakan ancaman di akhirat dan juga memotivasi untuk meraih kebaikan di negeri yang kekal abadi. Allah Ta’ala berfirman,

وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ

“Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.” Di akhirat cuma ada dua kemungkinan, yaitu mendapatkan siksa ataukah mendapatkan ampunan dari Allah dan meraih keridhoaan-Nya.



Faedah kedelapan

Dalam ayat ini kita diperintahkan untuk zuhud pada dunia dan lebih mementingkan akhirat. Karena sungguh, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.

Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَوْضِعُ سَوْطٍ فِى الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Satu bagian kecil nikmat di surga lebih baik dari dunia dan seisinya.”

Sungguh, nikmat dunia dibanding dengan nikmat akhirat amat jauh sekali. Namun kenapa kita lebih mengharap dunia dari akhirat? Mengapa kita lebih mengharap ridho manusia daripada ridho Allah?

Siapakah Kita...???

Siapakah orang yang sibuk ?

Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s



Siapakah orang yang miskin ?

Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.



Siapakah orang yang rugi ?

Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk beribadah dan amal-amal kebaikan.



Siapakah orang yang tertipu ?

Orang yang tertipu adalah mereka yang menyangka akan membawa nikmat dunia ke alam kuburnya, atau mereka yang merasa hidup cuma di alam dunia saja. Setiap nikmat serta anugrah Allah tidak mampu mendekatkan dirinya kepada Ilahi, akan tetapi dia justru lupa dan lalai untuk bersyukur.



Siapakah orang yang sengsara ?

Orang yang sengsara ialah orang iri hati dan dengki akan nikmat saudaranya. Setiap orang lain senang karena anugrah Allah, dia justru makin sempit hatinya karena ketidakpuasan jiwa.



Siapakah orang yang bangkrut ?

Orang yang bangkrut adalah orang yang pahala amal shalihnya habis untuk menutupi keburukan akhlaknya kepada sesama.



Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit ?

Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.



Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas ?

Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.



Siapakah orang yang paling cantik ?

Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang paling baik.



Siapakah orang yang manis senyumanya ?

Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabb, Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.



Siapakah orang yang memiliki mata paling indah ?

Orang yang memiliki mata terindah adalah mata yang banyak menangis karena Tuhannya. Mereka takut akan dosa dan azab siksa-Nya, mereka mengharap belai kasih dan maaf-Nya, dan mereka cinta dan rindu akan perjumpaan dengan-Nya.



Siapakah orang yang kaya ?

Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.



Siapakah orang yang mempunyai akal ?

Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.



Siapakah orang yang bahagia ?

Orang yang bahagia adalah mereka yang tidur di malam ini dengan tidak membawa beban dalam hatinya. Mereka memaafkan kejahilan saudaranya dan melapangkan urusan sesamanya.

Rabu, 14 Maret 2012

Agar Pedihnya Ujian Terasa Ringan

"Setiap hamba takkan pernah lepas dari ujian. Dgn diberinnya ujian, maka dapat diketahui sejauh mana kwalitas Iman sang hamba kepada Allah."

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yg artinya,"Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja),mereka mengatakan: Kami telah beriman, lalu tidak mendapat cobaan lagi." (QS. Al-Ankabut:2).

Sebagai orang arif kiranya kita tak perlu berkecil hati jika suatu ketika mendapat ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hal itu bukan berarti Allah Ta'ala membenci, bukan berarti Allah Ta'ala tak memperdulikan. Justru ujian demi ujian itu membuktikan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala suka dan sayang kepada kita. Semakin disayang, semakin berat yang kita lalui.

Betapa banyak pelajaran yang telah kita dengar dari kisah para Nabi. Meskipun mereka adalah "Kekasih-Nya", namun Allah Ta'ala memberikan cobaan yang sangat berat. Lebih berat dari cobaan yang kita terima. Perjalanan hidup Nabi Ibrahim Alaihissalam yang mendapat ujian berupa diperintah untuk menyembelih putra tersayangnya, Ismail.

Nabi Ayub Alaihissalam diuji dengan kekayaan lalu dimusnahkan. Kemudian ditimpakan penyakit yang menjijikkan, sehingga ia diusir orang kampungnya. Nabi Nuh Alaihissalam selama ratusan tahun berdakwah namun pengikutnya hanya 70 sampai dengan 80 orang saja.

Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa sallam, dilempari kotoran unta, diancam dibunuh, diisolir dan diperlakukan tidak manusiawi oleh orang-orang kafir.

Orang yang arif menilai bahwa ujian dari Allah itu menyimpan rahasia yang luar biasa. Dibalik ujian terkandung Hikmah dan Kebaikan.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang artinya:"Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang tidak sedikit."(QS. An-Nisa' 19)

Maka pencerahan bathin sangat diperlukan agar kita menjadi berjiwa besar dalam menghadapi ujian. Sehingga ketika diri menemui kesulitan, maka dengan cerdas kita dapat mengambil pelajaran berharga dibalik peristiwa itu. Karenanya sabar memang diperlukan dalam segala kesadaan yang tampak menyedihkan.

"Sungguh akan menjadi ringan ujian yang menimpa seseorang, jika ia memahami bahwa Allah jua yang memberi cobaan itu. Dzat yang telah memberi cobaan buat dia adalah Dzat yang membebaskannya dengan berbagai pilihan Kebaikan."

Wallahu'alam bishawab.

Aku Paling Jelek

Ada suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir.
Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut.
"Hai Fulan, kau telah menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti kamu lulus ", kata Kyai.
"Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?"
"Kamu cari orang atau mahkluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri waktu tiga hari ".
Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyai-nya.

Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Polan pemabuk berat yg dapat dikatakan hampir tiap hari mabuk-mabukan.
Santri berkata dalam hati, " Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus ". Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. "Belum tentu, sekarang Polan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Alloh memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul Khotimah, bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya.

Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri bergumam, " Ketemu sekarang yg lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi " . Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis 'Isya, dia merenung, "Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Alloh, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yg sangat berat yg kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka aku. "Aku tidak lebih baik dari anjing itu".

Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai.
Kyai bertanya, "Sudah dapat jawabannya muridku ?"
"Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru". Sang Kyai tersenyum, "Kamu aku nyatakan lulus".

Pelajaran yg dapat kita petik adalah:
Selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang berhak sombong adalah Alloh SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yg sama-sama ciptaan Allah.

Selasa, 13 Maret 2012

Aku Dimakamkan Hari Ini

perlahan, semua pergi meninggalkanku,

masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka

aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,

sendiri, menunggu keputusan...



Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,

Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,

Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,

rekan bisnis, atau orang-orang lain,

aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.



Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,

Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,

Tangan kananku menghibur mereka,

kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,

tetapi aku tetap sendiri, disini,

menunggu perhitungan ...



Menyesal sudah tak mungkin,

Tobat tak lagi dianggap,

dan ma'af pun tak bakal didengar,

aku benar-benar harus sendiri...



Tuhanku,

(entah dari mana kekuatan itu datang,

setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),

jika kau beri aku satu lagi kesempatan,

jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,

beberapa hari saja...



Aku harus berkeliling, memohon ma'af pada mereka,

yang selama ini telah merasakan zalimku,

yang selama ini sengsara karena aku,

yang tertindas dalam kuasaku.

yang selama ini telah aku sakiti hati nya

yang selama ini telah aku bohongi



Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,

yang kukumpulkan dengan wajah gembira,

yang kukuras dari sumber yang tak jelas,

yang kumakan, bahkan yang kutelan.

Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu



Dan Tuhan,

beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,

untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,

teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,

maafkan aku ayah dan ibu ,

mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu

beri juga aku waktu,

untuk berkumpul dengan istri dan anakku,

untuk sungguh sungguh beramal soleh ,

Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,

bersama mereka ...



begitu sesal diri ini

karena hari hari telah berlalu tanpa makna

penuh kesia sia an

kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya

sama sekali mengapa ku sia sia saja ,

waktu hidup yg hanya sekali itu

andai ku bisa putar ulang waktu itu ...



Aku dimakamkan hari ini,

dan semua menjadi tak terma'afkan,

dan semua menjadi terlambat,

dan aku harus sendiri,

untuk waktu yang tak terbayangkan ..

Rabu, 09 November 2011

Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa

Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.

Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

Jumat, 04 November 2011

Wajib Baca

Andai Al-Quran bisa bicara,
ia akan berkata:
"waktu kau masih anak-anak,
kau bagai teman sejatiku,
dengan wudhu kau sentuh aku,
dalam keada'an suci kau pegang aku,
kau baca dengan lirih&keras,
sekarang kau telah dewasa,
nampaknya kau sudah tidak berminat lagi padaku,
apakah aku baca'an usang? Yang tinggal sejarah? Sekarang kau simpan aku dengan rapi, kau biarkan aku sendiri. Aku menjadi kusam dalam lemari. Berlapis debu,
di makan kutu, ku mohon peganglah aku lagi, bacalah aku setiap hari Karna aku akan jadi penerang dalam kuburmu!!

Kamis, 27 Oktober 2011

Kenapa aku di uji.............???

Kenapa aq di uji.....???????
Surah Al ankabut ayat 2-3 : Apakah mnusia itu mengira bhw mrka d biarkan (saja) mengatakan :"Kami tlh beriman", sedang mrka tdk diuji lg? Dan sesungguhny Kami tlh menguji org" sblm mrk, mk ssungguhnya Allah mengetahui org" yg bnr & ssungguhnya Dia mengetahui org" yg dusta.

Knp aq tdk mendapatkan apa yg aq idam-idamkan?
Surah Al baqarah ayat 216 : Boleh jd kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu & blh jd (pula) kamu menyukai ssuatu pdhl ia amat buruk bg mu. Allah mengetahui, sdg kamu tdk mengetahui.

Knp ujian seberat ini ?
Surah Al baqarah 286 : Allah tdk membebani seseorang melainkan sesuai dg kesanggupannya.

RASA FRUSTASI ?
Surah Al imran ayat 139 : Janganlah kamu bersikap lemah, & jgn (pula) kmu bersedih hati, pdhl km lah org" yg plg tinggi (derajatnya), jk kamu org" yg beriman.

Bagaimana aku menghadapinya ?
Surah Al imran ayat 200 : Hai org" yg beriman, bersabarlah kamu & kuatkanlah kesabaranmu & ttp lah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) bertaqwalah kpd Allah, spya km beruntung.

Surah Al baqarah ayat 45 : jadikanlah sabar dan shalat sbg penolongmu. & sesungguhny yg dmkian itu sunggh brat, kecuali bg orang" yg kusyu'.




Aku tak dpt bertahan lagi ..!!
Surah Yusuf ayat 87 : jgn lah kamu brputus asa dr rahmat Allah sesungguhnya tiada brputus asa dr rahmat Allah, melainkan kaum yg kafir.

Surah An nisaa ayat 86 : apabila kamu dihormati dg suatu penghormatan, mk bls lah penghormatan itu dg lbh baik, atau balaslah (dg yg serupa) sesunggunya Allah memperhitung sgl sesuatu.

Kpd siapa aq berharap..?
Surah At taubah ayat 129 : cukuplah Allah bg q, tdk ada Illah selain Dia. Hny kpd Ny aq bertawakal.

Apa yg aku dpt dr semua ini ?
Surah At taubah ayat 11 : Sesungguhnya Allah tlh membeli dr org" mukmin, diri & harta mereka dg memberikan surga u/ mereka..

Minggu, 23 Oktober 2011

Doa untuk orang tua

Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.
Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Adhiim
Astaghfirullahal Adhiim

Hidup adalah BELAJAR

Hidup adalah BELAJAR




Belajar BERSYUKUR meski tak cukup,

Belajar IKHLAS meski tak rela,

Belajar MEMAHAMI meski tak sehati,

Belajar SABAR meski terbebani,




Belajar dan terus Belajar...

meski keyakinan setegar karang,

tapi sudah menjadi kodrat bahwa hati seperti air laut..

bergelombang, pasang surut, & sering terbawa arus..




Ya Rabb... kuatkan kami,

Kami berlindung kapadaMu dari kelemahan dan kesedihan..

sempurnakanlah nikmatMu, sehat dariMu, dan penjagaanMu atas kami..

AMIN..

Renungan

Seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?"

Ayahnya menjawab sambil tersenyum, "Tak mungkin, nak."

"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" tanyanya lagi.

Ayahnya berkata, "Tak mungkin, nak."

"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?"

Lagi-lagi ayahnya berkata, "Tak mungkin, nak."

"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" anak kecil itu bertanya lagi.

Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab, "Mmmm..... mungkin bisa, nak."

"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? Tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?"

Ayahnya tertawa dan berkata, "Nah, kalau itu pasti bisa, nak."

anak kecil itu tersenyum lega dan berkata, "Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, momen demi momen, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya?"

---ooo0ooo---

Well, sahabatku, hidup akan sangat mudah dijalani dengan memperhatikan dan menjaganya setiap waktu dari jam ke jam, tak ada gading yg tak retak, tapi jika dijaga, dipelihara dengan baik, dan dirawat setiap saat, gading retak pun akan jadi pajangan yang indah.

Di Telaga itu Rasul Menanti

Telaga itu luas, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

Tapi di antara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawanya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh akhlaq, matanya berkaca-kaca. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”

Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”
Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.

Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.

Sudah Merasa amankan anda?... Bagaimana melewati Shirat?

DIATAS TITIAN JAHANNAM

“APABILA LANGIT TERBELAH” (Qs Al- insyiqaaq: 1

“APABILA LANGIT DIGULUNG”. DAN APABILA BINTANG-BINTANG BERJATUHAN. DAN APABILA GUNUNG-GUNUNG DIHANCURKAN (Qs At-takwir : 1-3)

“TAHUKAH KAMU APAKAH HARI PEMBALASAN ITU?”. SEKALI LAGI TAHUKAH KAMU HARI PEMBALASAN ITU?” (Qs Al-infithaar: 17-18)

“YAITU HARI (YANG PADA WAKTU ITU) DITIUP SANGKAKALA LALU KAMU DATANG BERKELOMPOK-KELOMPOK”. (Qs An-naba:18)

***
Shirat adalah jembatan yang terbentang diatas neraka jahanam .Ia lebih tajam dari pedang, lebih halus dari rambut, licin dan mudah menggelincirkan. Shirat adalah jalan yang gelap serta membakar.
Muslimin dan pengikut para Rasul akan berhasil melewati Shirat.

Diriwayatkan dari salman Al-farisi dari nabi, beliau bersabda "Dan diletakkanlah shirat yang tajamnya seperti pisau (cukur).
Lalu malaikat bertanya: " Siapakah yang dapat melewatinya?"
Maka Allah berfirman " Orang yang Ku-kehendaki diantara Makhluk"
Lantas mereka berkata : "Maha suci Engkau, Kami belum beribadah dengan sebenar-benar ibadah kepada-Mu" (HR ALHAKIM)

Aisyah bertanya : "Aku bertanya kepada Rosululloh tentang firman Alloh SWT" (yaitu) (pada hari (ketika)) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit (Q.S. Ibrahim 48)
'Dimana manusia ketika itu wahai Rosululloh?' Beliau bersabda "diatas Shirath"

DAHSYATNYA UJIAN SHIRATH

Melewati shirat termasuk ujian berbahaya, atau bahkan yang paling berbahaya pada hari kiamat, sebab di dalamnya terdapat berbagai hal yang MENAKUTKAN, MENCEMASKAN, MENGKHAWATIRKAN dan MENGGONCANGKAN AKAL maupun JIWA makhluknya. Kita sama sekali tidak bisa membayangkan.

ADA 4 HAL YANG MENUNJUKKAN HAL TERSEBUT :

1.Saat itu setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri
2.Ketakutan malaikat akan kedahsyatan nya, padahal mereka makhluk yang tidak dihisap.
3. Keberadaan Nabi Muhammad disana untuk memberikan syafaat.
Anas bin Malik berkata : "Aku memohon kepada Nabi agar memberikan SYAFAAT untukku pada hari kiamat.
Beliau bersabda: "Saya akan melakukannya"
Anas bertanya lagi :" Wahai Rasulullah dimanakah aku mencarimu? Beliau bersabda : "Carilah aku pertama kali diatas shirat"
Anas lalu bertanya lagi, "Bagaimana jika aku tidak menjumpai mu di atas shirat?.
Beliau bersabda, "Maka carilah aku di mizan". Aku bertanya , "Lalu bagaimana kalau aku tidak menjumpaimu di mizan? "
Beliau bersabda : "Maka carilah aku di Haudh (telaga) . Karena sesungguhnya aku tidak luput dari 3 tempat tersebut "
(HR Ahmad )

4.Saat itu tidak ada yang dapat berbicara kecuali para Rasul.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
"Lalu diletakkan shirat diantara kedua sisi jahanam, maka aku adalah orang yang pertama
kali melewatinya diantara para Rasul yang membawa umatnya. Tidak ada yang dapat berbicara ketika itu kecuali para Rasul. Doa para Rasul ketika itu adalah : "YA ALLAH , SELAMATKANLAH, SELAMATKANLAH..."
(HR Al-Bukhari (806), Muslim (182) )

Dari hadis-hadis diatas terlihat jelas bahwa ujian melewati shirat termasuk salah satu ujian yang mengharuskan kita memelihara amal-amal yang bisa menyelamatkan kita dari ujian-ujian tersebut.

Abdullah bin Masud meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : "ORANG YANG TERAKHIR MASUK SURGA ADALAH ORANG YANG BERJALAN DIATAS SHIRAT DALAM KEADAAN SESEKALI BERJALAN, SESEKALI TERSUNGKUR DAN SESEKALI API NERAKA MENJILATNYA"
Ketika ia telah melewati itu , iapun menoleh kebelakang, "MAHA SUCI ALLAH YANG TELAH MENYELAMATKANKU DARIMU, SESUNGGUHNYA ALLAH TELAH MEMBERIKU SESUATU YANG TIDAK DIBERIKANNYA KEPADA SEORANGPUN DIANTARA ORANG-ORANG TERDAHULU DAN ORANG-ORANG YANG TERKEMUDIAN.
(HR Al-Bukhari (16571)).

APAKAH ORANG-ORANG KAFIR DAN MUNAFIK AKAN MELEWATI SHIRAT?

Sebagian ulama berpendapat bahwa seluruh manusia baik muslim maupun kafir akan melewati shirath. Tetapi dalam As-shahihain disebutkan bahwa orang- orang musyrik dan ahli kitab tidak akan melewati shirat, sebab sebelum ujian melewati shirat mereka diperintahkan untuk mengikuti apa yang mereka sembah selain Allah sewaktu di dunia. Merekapun mengikuti sesembahan - sesembahan itu ke neraka. Kemudian di dorong keneraka sekuat-kuatnya. Sehingga merekapun berjatuhan kedalamnya. Setelah itu hanya umat ini yang tersisa di Mahsyar. Kemudian diletakkan shirat diatas neraka jahanam.

Tinggallah orang- orang yang dulunya menyembah Allah, baik yang taat maupun yang bermaksiat dan juga beberapa yang tertinggal (sisa-sisa) ahli kitab.

Dikatakan kepada mereka ;APA YANG MENGHALANGI KALIAN SEKALIAN SEDANGKAN ORANG -ORANG TELAH PERGI?. Mereka menjawab ;KAMI TELAH TERPISAH DENGAN MEREKA SEDANGKAN KAMI SANGAT MEMBUTUHKANNYA HARI INI. SESUNGGUHNYA KAMI

TELAH MENDENGAR PENYERU YANG MENYERUKAN HENDAKLAH SETIAP KAUM MENEMUI APA YANG DULU MEREKA SEMBAH.SESUNGGUHNYA KAMI SEDANG MENUNGGU ROBB KAMI.

Dalam riwayat muslim disebutkan bahwa :
Nabi bersabda :”APABILA DATANG HARI KIAMAT ADA PENYERU YANG MENYERUKAN : “HENDAKLAH SETIAP UMAT MENGIKUTI APA YANG DULU MEREKA SEMBAH”. MAKA TIDAK ADA SEORANGPUN YANG DULUNYA MENYEMBAH SELAIN ALLAH BERUPA PATUNG-PATUNG DAN BERHALA-BERHALA KECUALI IA JATUH KEDALAM NERAKA ".

Akhirnya tidak ada yang tertinggal , kecuali orang-orang yang dulunya menyembah Allah dari golongan yang taat atau ahli maksiat dan juga beberapa yang tertinggal ( sisa-sisa ) ahli kitab.

Datanglah Rabbul alamin menemui mereka dalam bentuk lain yang mereka lihat sebelumnya.

Allah berfirman: “APA YANG KALIAN TUNGGU?”
PADAHAL SETIAP UMAT TELAH MENGIKUTI APA YANG DULU MEREKA SEMBAH. Mereka berkata : “WAHAI RABB KAMI , KAMI TELAH TERPISAH DARI ORANG-ORANG ITU DI DUNIA. PADAHAL KAMI MEMBUTUHKAN MEREKA SAAT ITU. NAMUN KAMI TETAP TIDAK BERSAMA MEREKA.

Dia berfirman : “AKU ADALAH ROBB MU.
Lantas mereka berkata , “KAMI BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARIMU. KAMI TIDAK AKAN MEMPERSEKUTUKAN ALLAH DENGAN SESUATUPUN (dua sampai tiga kali), SEHINGGA HAMPIR SAJA DIANTARA MEREKA ADA YANG BERPALING ( dari kebenaran)

Lalu Dia berfirman : “ APAKAH ANTARA KALIAN DENGANNYA ADA TANDA YANG KALIAN KETAHUI?” . Mereka Menjawab ;: “YA . LALU, DIA MENGHILANGKAN KETAKUTAN DAN KEGALAUAN”

MAKA TIDAKLAH TERTINGGAL ORANG YANG DULUNYA BERSUJUD KEPADA ALLAH DENGAN IKHLAS, KECUALI ALLAH MENGIZINKANYA UNTUK BERSUJUD, DAN TIDAKLAH TERTINGGAL ORANG YANG DULUNYA BERSUJUD KARENA CARI AMAN DAN RIYA (INGIN DILIHAT ORANG LAIN), KECUALI ALLAH MENJADIKAN PUNGGUNGNYA RATA (LURUS), SETIAP KALI IA INGIN SUJUD, IAPUN TERSUNGKUR DENGAN TENGKUKNYA.

Kemudian mereka ( yang bersujud ) mengangkat kepala . Sedang DIA telah beralih dalam bentuk yang mereka lihat pertama kali. Maka dia berfirman : "AKU ADALAH RABBMU", Lalu mereka berkata : “ENGKAU RABB KAMI”.
Kemudian diletakkan shirat diatas jahannam.
Dan yang ada HANYA IZIN MEMINTA SYAFAAT.
Mereka (Para NABI PUN BERDOA) , “YA ALLAH SELAMATKANLAH, SELAMATKANLAH”

Ibnu Rajab berkata “ Hadis ini jelas menerangkan bahwa setiap orang yang beribadah kepada sesuatu selain Allah, seperti golongan ahli kitab yang menyembah Al-masih dan Uzair, akan bergabung dengan Musyrikin untuk sama-sama dijerumuskan kedalam neraka sebelum shirat dibentangkan”

Hanya saja para penyembah berhala , matahari, bulan dan golongan musyrikin lainnya akan mengikuti apa yang dulu nya mereka sembah didunia. Lalu merekalah yang pertamakali masuk neraka bersama sesembahan mereka. AlQuran sendiri telah memberi keterangan yang semakna dengan ini dalam firman Allah :
“IA BERJALAN DIMUKA KAUMNYA PADA HARI KIAMAT LALU MEMASUKKAN MEREKA KEDALAM NERAKA. NERAKA ITU SEBURUK-BURUK TEMPAT YANG DIDATANGI (Hud : 98)

Sedangkan orang-orang munafik akan melewati titian itu . Mereka diberikan cahaya untuk menerangi jalan mereka.
Kemudian dipadamkan cahaya mereka agar mereka berjatuhan kedalam tingkatan yang paling bawah dari neraka. Kita berlindung kepada Allah.

Jabir Bin Abdullah pernah berkata,… “Setiap Manusia Baik Munafik maupun Mukmin Akan Diberi Cahaya kemudian Mereka Mengikutinya. Diatas Jembatan Jahannam ada cakar-cakar (besi-besi pengait) dan duri-duri yang menyambar siapapun orang yang dikehendaki Allah. Kemudian dipadamkan Cahaya Orang-Orang munafik. Selanjutnya Selamatlah Orang-Orang Mukmin. (HR Ahmad dlm Al-Musnad(14763) dan Muslim (191)

KEADAAN MANUSIA DIATAS SHIRATH

Orang yang melewati Shirath ada empat golongan masing-masing menurut kadar keimanan dan amalnya.
Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri Bahwa Rasulullah bersabda :”Diletakkan Shirath diantara kedua tepi Jahannam, diatasnya ada duri-duri seperti duri As-Sa’ dan (jenis tumbuhan berduri) kemudian orang-orang melewatinya.

Ada orang yang sampai (keseberang) dan selamatlah ia.
Ada yang tersambar sehingga tubuhnya tercabik, namun ia tetap selamat, tetapi adapula yang terkait lalu terhempas keneraka. (HR Ahmad dalam Al-Fath Ar_rabbani :24/157)

1.Diantara mereka ada yang melewatinya dengan cepat dan selamat dari titian itu. Sehingga ia tidak tersentuh panasnya jahannam ataupun cakar-cakar shirath. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Mas’Ud dimana Rasulullah bersabda : “MANUSIA AKAN MENDATANGI NERAKA , KEMUDIAN MEREKA AKAN PERGI DARI NERAKA ITU SESUAI DENGAN AMAL-AMALNYA. GOLONGAN PERTAMA DIANTARA MEREKA SECEPAT KILAT, KEMUDIAN SEPERTI ANGIN, KEMUDIAN SEPERTI KENCANGNYA KUDA MAKSUDNYA LARI KUDA , KEMUDIAN SEPERTI ORANG YANG MENGENDARAI HEWANNYA, KEMUDIAN SEPERTI LARINYA SESEORANG. KEMUDIAN SEPERTI ORANG YANG BERJALAN.
(hr Ahmad dalam Al-Fath Ar-rabbani)

2.Diantara mereka ada yang tercabik-cabik oleh cakar-cakar shirath atau terpotong-potong dagingnya, namun kemudian ia selamat.
“… DIKEDUA TEPI SHIRATH ADA BESI-BESI PENGAIT LAKSANA CAKAR-CAKAR YANG TERGANTUNG (Shahih muslim bin syarhi an-nawawi(3/25) (182)), YANG DIPERINTAHKAN UNTUK MENYAMBAR SIAPA YANG DIPERINTAHKAN KEPADANYA. LANTAS ADA YANG TERCABIK-CABIK DAN TERHUYUNG-HUYUNG NAMUN SELAMAT SAMPAI TUJUAN.
ADA PULA YANG DISAMBAR DAN DIHEMPASKAN DI NERAKA (HR MUSLIM ( 9195) DAN Al hakim (4/631) dari sahabat hudzaifah).

3. Diantara mereka ada yang tertahan diatas shirath lalu mengalami berbagai penderitaan hebat berupa jilatan api neraka jahannam serta azab , teror lainnya yang membuat jantung seperti terlepas .
Diriwayatkan dari Sahl bin Muadz bin anas Al –Juhani dari ayahnya dari nabi yang bersabda : “BARANGSIAPA YANG MELONTARKAN KEPADA SESEORANG MUSLIM SESUATU (TUDUHAN) DENGAN MAKSUD INGIN MENCELA NYA, NISCAYA ALLAH MENAHANNYA DIATAS JEMBATAN JAHANNAM SEHINGGA IA MENARIK PERKATAANNYA”
(HR Abu Dawud 948830 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud (4086)).

4. Diantara mereka ada yang dibinasakan oleh amalannya sendiri, sehingga iapun jatuh kedalam neraka. Kita berlindung kepada Allah.
Hal ini disebutkan dalam riwayat Abu Bakar dari nabi yang bersabda:
“PADA HARI KIAMAT KELAK MANUSIA AKAN DILETAKKAN DIATAS SHIRATH , LALU PARA PENJAGA SISI SHIRATH MENJATUHKAN MEREKA LAKSANA BERJATUHANNYA KUPU-KUPU KEDALAM API NERAKA, “BELIAU BERSABDA, “LALU DENGAN RAHMATNYA, ALLAH SELAMATKAN SIAPAPUN YANG DIKEHENDAKINYA” (HR Ahmad dalam Al-Fath Ar-Rabbani 24/156, At-tabrani, Albazzar dan di shahihkan Al-Albani dalam Zhilalul jannah 9837)

Pada saat yang sangat sulit, sangat menakutkan dan membuat jantung serasa copot iniPARA RASUL MEMANJATKAN DOA DENGAN MENGATAKAN. “YA ALLAH SELAMATKANLAH, SELAMATKANLAH”, Sebagai rasa KASIH DAN SAYANG TERHADAP KEADAAN MANUSIA YANG MEREKA LIHAT DIATAS SHIRATH INI….
Wallahualam …

Saya memohon kepada Allah yang maha Agung , Rabb Arsy Yang mulia , agar menyelamatkan kita dari berbagai ujian hari kiamat dan dari ujian shirath .Semoga Allah memasukkan kita ketempat yang mulia dan tidak memperlakukan kita dengan sifat yang sudah biasa menjadi sifat kita, tapi memperlakukan kita dengan cara Yang sesuai Dengan Sifat-Nya… Amin.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Karena kita salah memahami keinginan ibu yang sederhana

Suatu hari, seorang anak akan berangkat keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan nya. Kedua orang tuanya, karena akan berpisah dengan anak yang dicintainya dengan jarak yang sangat jauh, tentu ingin meluapkan rasa  perhatian nya dengan mengantarkan anaknya itu ke bandara. Orang tua manapun, terutama ibu, akan selalu ingin menyertai anak nya di saat saat penting seperti ini, entah sekedar memberi semangat, mendoakan, atau sekedar melepas rasa haru kepada darah daging nya.

Tapi si anak yang sudah merasa besar dan dewasa, tanpa merasa bersalah menolak niat baik orang tuanya. Dia justru menganggap keinginan baik mereka, seperti perlakuan orang dewasa kepada anak kecil yang harus ditemani kemanapun akan pergi. Si anak meminta orang tuanya untuk tetap tinggal dirumah dan membiarkannya berangkat sendiri.
Mungkin saja anak itu punya niat baik untuk tidak merepotkan orang tuanya, namun ia gagal memahami perasaan hati seorang ibu. Ia tidak mengerti gemuruh hati orang yang begitu berat melepas anak nya untuk pergi jauh. Sehingga yang terjadi kemudian, keinginan sederhana itu tak terwujud dan bahkan menyisakan luka di hati. Anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta dan pengorbanan, yang di sekolahkan hingga pandai, ternyata pikirannhya tak mampu menjangkau dalam nya cinta dan kasih sayang orang tuanya. Dia hanya bisa menafsir keinginan orang tuanya sebatas itu ; menganggap nya masih kanak – kanak. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu, karena disini jelas tersimpan sebuah keingina yang tak dipahami si anak, mereka memiliki keinginan untuk tetap memberikan cintanya dalam waktu sekejap itu, sebelum berpisah dengan waktu yang cukup lama. Dalam benak mereka mungkin  terselip, “ Andai ini pertemuan terakhir, aku ingin menatap anak ku untuk yang terakhir kalinya,” atau  “ Anakku  membutuhkan kekuatan do’a, maka aku ingin mengiringi kepergiannya dengan lantunan do’a”.

Sekedar ingin membuat kita senang

Barangkali, tidak ada orang yang paling tahu kesukaan kita selain ibu. Dari kecil kita di asuh, hingga dewasa kita di asah, ibu sangat mengerti kita, mengerti semua kesenangan kita dan hal – hal yang membuat kita senang. Dan keunikan dari seorang ibu, ia selalu ingin menghadirkan kesenangan – kesenangan itu untuk kita walau kita sudah dewasa dan menganggap sudah tidak di masa itu lagi, atau merasa sudah mampu menghadirkannya sendiri.  Betapa mulianya ia, yang tak pernah bosan dan lupa dengan kesenangan – kesenangan masa lalu kita. Suatu hari kita datang menjenguk nya, ia selalu siap menyajikan menu – menu makanan kesukaan kita. Atau bahkan ia selalu bertanya, “mau makan apa nak?, mau di masakin apa?”, semua siap ia sediakan. Pun ketika kita akan pergi lagi,ia selalu membekali cemilan – cemilan kegemaran kita, meski kita selalu mencari – cari alasan untuk menolaknya karena merasa berat membawanya.

Ada seorang kakak yang menceritakan dialognya lewat telepon dengan adiknya yang tinggal bersama ibu nya. Sang kakak yang tinggal di perantauan meminta adiknya untuk mengirimkan jamu dari kampung halamannya. Tetapi ketika barang itu hendak di kirim. Sang adik meminta biaya tambahan, sebab selain jamu si ibu juga menyertakan makanan ringan berupa intip (kerak nasi yang dikeringkan), makanan kesukaan sang kakak sejak kecil. Karena merasa tidak memesan intip, si kakak pun meminta adiknya untuk membawa kembali saja makanan itu. Tetapi si adik yang berkali – kali didesak tetap menolak sambil mengatakan, “lebih baik saya berikan orang ke jalan dari pada ibu kecewa. Tiap hari kalau masak di tunggui supaya jadi intip. Ibu juga mencari matahari di banyak tempat agar intip nya cepat kering, bisa di goreng dan siap dikirimkan, tapi kamu kok malah begitu?”. Dari seberang sana, dadanya seperti teriris, tenggorokannya terasa serak saat itu juga, susah menelan ludah nya. Pikirannya melayang, Ia membayangkan ibu nya yang begitu tulus berbuat sesuatu yang membuatnya senang, tetapi ia hampir gagal memahami ke inginan ibu nya yang sederhana, tetapi menyimpan kasih sayang yang begitu besar.

Semoga kita dapat membahagiakan orang tua kita, dengan memahami dan memenuhi keinginan – keinginan nya yang sederhana. Karena pada hakikatnya, apapun yang kita berikan, tidak akan pernah sepadan dengan kasih sayang yang mereka curahkan kepada kita.

Jumat, 21 Oktober 2011

Dari ibu untuk anaknya

Bersyukurlah saat kau tidak mengetahui sesuatu karena hal itu memberimu kesempatan untuk belajar.

Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi karena selama masa itulah kau menjadi dewasa.

Bersyukurlah atas keterbatasan yang kau miliki karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bersyukurlah atas setiap tantangan baru karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yg telah kau perbuat karena hal itu akan memberimu pelajaran yang sangat berharga.

Adalah mudah untuk bersyukur atas hal-hal yang baik. Adapun kehidupan yang bermakna adalah bagi mereka yang juga bersyukur atas kesulitan yang dihadapi.

Berusahalah, bersyukur atas kesulitan yang kau hadapi hingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu.

Peringatan Waktu

Semakin dalam kita menikmati kehidupan in semakin habis juga waktu dan masa yang kita punya bagaikan seortang anak kecil yang sedang memakan sebatang cokelat semakin dia menikmati rasanya dan kelezatannya maka ia juga akhirnya tersadar bahwa cokelatnya akan segera habis, inilah sikap yang seharusnya terpatri dalam semua hamba allah yang fana.
Dunia yang sekelumit telah menyebabkan banyak insan yang silau dibuatnya seolah-olah hidup ini akan berlangsung selamanya, taak heran jikalau banyak manusia yang semakin terjerembab kedalam kubangan kehinaan tanpa nilai dan moral. Padahal kita hanyalah seonggok tanah yang berwujud manusia yang pernah allah ciptakan dari setetes air yang hina. namaun kaena kesombongan dan keangkuhannya manusia seolah menjadi makhluk yang akan kekal abadi semua aturan dilanggarnya semua ayat dinistakannya hidupnya hanya mengenal kenikmatan sementara nafasnya mereka habiskan dalam kesewenang-wenangan hawa nafsu belaka.

Senin, 17 Oktober 2011

Nenek Pemungut Daun

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?
Insya Allah, Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya.

"Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.
Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Ta'mir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya." Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. "Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."
Allohumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad....

Rasulullah dan Pengemis

"Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai
saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka
kalian
akan dipengaruhinya". Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan
membawakan
makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan
makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang
membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari
! sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah
anaknya Aisyah RA yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?". Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak
ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja". Apakah Itu?", tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi keujung pasar dengan
membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk
diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu
memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya,
si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu ?". Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa." "Bukan! Engkau bukan ora! ng yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak
susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih
dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW". Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... " Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan
Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq
Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More